
Surabaya, (bisnisnasional.com) – Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Timur mencatat stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Timur hingga awal 2026 tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan inflasi yang meningkat. Berdasarkan data BPS Jawa Timur, inflasi Februari 2026 mencapai 4,88 persen (yoy), naik dibanding akhir 2025 sebesar 2,93 persen. Namun pada Maret 2026 inflasi mulai melandai menjadi 3,79 persen (yoy), dipengaruhi kenaikan harga pangan, tarif energi, emas, dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan.
Di tengah tekanan tersebut, sektor jasa keuangan tetap menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. OJK menilai kondisi ini menunjukkan sektor jasa keuangan Jawa Timur tetap kuat dan adaptif menghadapi tantangan domestik maupun global, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan daerah secara berkelanjutan.
Pada sektor pasar modal, kepercayaan investor Jawa Timur tetap tinggi. Jumlah investor saham atau SID saham pada Januari 2026 mencapai 1,2 juta SID atau tumbuh 39,48 persen (yoy). Nilai transaksi saham juga melonjak signifikan dengan total transaksi mencapai Rp72,7 triliun atau tumbuh 225,15 persen (yoy). Sementara nilai kepemilikan saham tercatat Rp159,2 triliun pada Februari 2026, meningkat 73,82 persen (yoy). Selain itu, penghimpunan dana Securities Crowdfunding (SCF) di Jawa Timur mencapai Rp61,7 miliar dengan 34 penerbit dan 7.938 pemodal.
Di sektor perbankan, kredit per Februari 2026 tercatat Rp620,09 triliun atau tumbuh 1,97 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp830,75 triliun dengan pertumbuhan 4,19 persen (yoy). Likuiditas dan permodalan perbankan tetap kuat dengan rasio CAR sebesar 30,48 persen. Meski demikian, OJK mencatat adanya kenaikan rasio kredit bermasalah atau NPL Gross menjadi 3,63 persen, sehingga risiko kredit tetap perlu dicermati.
Kinerja sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun juga menunjukkan kondisi relatif stabil. Premi asuransi jiwa tumbuh 5,61 persen (yoy), sementara premi asuransi umum tumbuh 0,40 persen. Total aset dana pensiun di Jawa Timur mencapai Rp4,68 triliun atau tumbuh 6,96 persen (yoy). Pada sektor penjaminan, total aset tercatat Rp809 miliar meskipun nilai penjaminan mengalami kontraksi akibat kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
Sementara itu, sektor PVML menunjukkan dinamika beragam. Piutang perusahaan pembiayaan mengalami kontraksi 2,71 persen menjadi Rp45,65 triliun, sedangkan pembiayaan modal ventura tumbuh 8,06 persen menjadi Rp1,82 triliun. Pada sektor fintech P2P lending, outstanding pembiayaan mencapai Rp11,87 triliun dengan pertumbuhan 18,47 persen (yoy). Adapun sektor pergadaian swasta mencatat pertumbuhan kuat dengan total aset Rp853 miliar dan outstanding pembiayaan Rp728 miliar.
Dalam aspek pelindungan konsumen, selama Januari-Maret 2026 OJK Jawa Timur menerima 387 layanan konsumen melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK), yang terdiri atas pertanyaan, informasi, dan pengaduan. Selain itu, terdapat 3.618 layanan konsultasi langsung serta 15.037 permintaan data SLIK. Pengaduan terbanyak berkaitan dengan restrukturisasi kredit dan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). OJK juga terus memperkuat edukasi keuangan dan perlindungan masyarakat melalui berbagai kanal digital dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta akademisi.
Sepanjang 2025 hingga Triwulan I 2026, sinergi OJK bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) berhasil melaksanakan 865 kegiatan edukasi keuangan dengan menjangkau lebih dari 532 ribu peserta. Program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) di Jawa Timur juga mencatat 4.170 kegiatan dengan lebih dari 1 juta peserta sejak Agustus 2024. Selain itu, program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 melibatkan sekitar 182 ribu partisipan melalui berbagai kegiatan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Bisnis Nasional Update Informasi Terkini