Iklan Baris Anda

Buku Balada Maryamah dan Putra Angin sebagai Pengingat Tragedi Berdarah dan Kekuatan Cinta Antar Suku

Surabaya, (bisnisnasional.com) – Sirikit Syah merupakan penyair Jawa Timur (Jatim) yang memiliki kesetiaan dalam menulis. Ia tak pernah lelah menulis, baik itu berupa cerita pendek, puisi, kolom, artikel, jurnalistik, dan sebagainya.

Puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini menandai pengembaraannya di dunia, catatan kritis terhadap hal, keadaan, maupun peristiwa. Dia terkesan tidak ingin bermain-main kata, dia ingin bertutur secara lugas, dia tidak ingin mendandani kata agar tetap terasa jujur.

Semua hal, baik itu masalah sosial, budaya, politik dan sebagainya didekatinya dari cara pandang perempuan. Itulah kelebihan puisi-puisi Sirikit Syah. (Tengsoe Tjahjono – penyair dan Dosen Universitas Negeri Surabaya).

Kemarin, ia telah membuat sebuah buku yang berjudul Balada Maryamah dan Putra Angin. Diterbitkan Nabhan Galeri, buku ini dicetak sebanyak 100 eksemplar dan sudah terjual 60 exsemplar. “Nanti sisanya akan saya sumbangkan ke perpustakaan-perpustakaan yang membutuhkan,” ujarnya.

Buku yang menceritakan tentang akumulasi impresiku tentang peristiwa Dayak-Madura di Kalimantan Tengah di awal 2000an. “Aku tidak bisa menuliskannya hingga tahun 2002. Sejarah kelam konflik antar suku di Indonesia itu membuatku sulit menulis,” ujarnya.

“Baru ketika aku menjadi co-trainer pelatihan Jurnalisme Damai yang diselenggarakan oleh Kedutaan Inggris di Indonesia, aku bisa menuliskannya. Pelatihan bagi para wartawan di berbagai wilayah konflik di Indonesia ini membuka luka-luka yang dialami para jurnalis,” lanjutnya.

Di Manado, Ternate, Makassar, ia tak hanya melatih bagaimana meliput konflik dengan tujuan damai, ia justru lebih banyak mendengar cerita. Salah seorang peserta pelatihan, berdarah Dayak, mengalami trauma dan depresi dari peristiwa Dayak-Madura yang harus diliputnya.

Puisi Maryamah dan Putra Angin adalah ringkasan dari tragedi itu Sebagai pengingat tragedy berdarah, sekaligus kekuatan cinta antar suku, kuambil judul puisi ini sebagai judul buku.

“Terima kasih Mas Hamid Nabhan yang mensponsori terbitnya buku ini. Terimakasih pembaca. Nikmati puisi-puisi ini bagai dongeng masa lalu, masa kini, dan masa nanti. Bila puisi ini tak menghiburmu, mungkin bisa memperkaya batinmu,” tutupnya. (*)

Check Also

Skin.guru, Sahabat Wanita Untuk Tampil Glowing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.