
Surabaya, (bisnisnasional.com) – Ajang tahunan JNE Content Competition kembali digelar untuk yang ke-13 kalinya pada 2026 ini. Surabaya menjadi kota keenam sekaligus kota penutup dalam rangkaian pergelaran kompetisi tahun ini. Kegiatan inspiratif Creative Workshop bertajuk “Think Creative: Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita” ini diselenggarakan pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 14.00 WIB, bertempat di Hall A Lantai 5 Gedung Fisip Kampus B Universitas Airlangga Surabaya.
Workshop ini menjadi bagian dari komitmen JNE dalam mendukung pengembangan kreativitas generasi muda, khususnya mahasiswa, agar mampu menuangkan ide menjadi karya yang komunikatif, bermakna, dan memiliki daya saing di era digital.
Dalam sesi talkshow & media gathering, Eri Palgunadi selaku SVP Marketing Group Head JNE menyampaikan, melalui Creative Workshop ini pihaknya ingin membuka ruang belajar sekaligus inspirasi bagi mahasiswa agar mampu mengembangkan ide menjadi karya yang memiliki cerita dan nilai.

“Kompetisi ini sengata dirancang sesederhana mungkin agar tidak menyulitkan peserta dengan urusan administratif. Kami bangga atas tingginya animo peserta yang hadir, terutama di tengah masifnya gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini ternyata masih banyak mahasiswa dan umum yang hadir untuk belajar kembali bagaimana membuat sebuah karya/konten. Tak hanya sebatas konten-konten receh, tapi yang punya sisi inspirasi,” katanya.
Sementara Ketua Humas & Komunikasi Publik sekaligus Lecturer of Anthropology (Dosen Antropologi) di Universitas Airlangga, Biondo Wisnuyana, S.Ant., M.A memaparkan, lingkungan sekitar memiliki potensi yang sangat besar untuk digali dan ditransformasikan menjadi sebuah karya, khususnya di era digital saat ini. Namun proses pembuatan karya, baik dalam bentuk tulisan maupun video, bukanlah hal yang instan, melainkan sebuah proses belajar yang membutuhkan kebiasaan dan pengalaman yang konsisten.
Di era kemajuan teknologi dan maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), akses terhadap bahan bacaan dan literasi bagi generasi Z (Gen Z) dinilai menjadi jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu mahasiswa harus mencari jurnal dan artikel secara manual, kini segala informasi spesifik dapat diakses hanya dengan sekali klik.
“Melihat fenomena ini, peran institusi pendidikan dan pengajar sangat krusial untuk membimbing mahasiswa agar kemudahan teknologi tersebut dapat disalurkan menjadi karya yang produktif. Kami sebagai pengajar di institusi pendidikan ini untuk mengarahkan mereka agar bisa memanfaatkan hal tersebut untuk bisa lebih baik lagi dimanfaatkan menjadi sebuah karya,” terangnya saar media gathering.
Terkait kriteria dalam komperisi ini salah satu juri writing competition sekaligus penulis & pegiat literasi, Maman Suherman atau yang akrab disapa Kang Maman memaparkan sejumlah kriteria utama bagi para peserta yang ingin naskahnya lolos hingga tingkat pusat dan keluar sebagai pemenang.
Pertama, peserta melewati lapisan persyaratan administrasi. Jangan sampai ada persyaratan yang tidak diisi. Pihak JNE yang akan menyeleksi. Setelah lolos seleksi administrasi, naskah akan dinilai melalui sistem berjenjang dari tingkat regional sebelum akhirnya maju ke kurasi tingkat nasional.
“Kami di jurnalistik jelas selalu menjaga tentang 5W1H. Kami juga mengingatkan para jurnalis dan peserta untuk tetap berpegang teguh pada etika jurnalistik yang memisahkan antara opini pribadi dan kenyataan di lapangan,” jelasnya.
Salah satu juri Photo Competition pada ajang JNE Content Competition ini, Martha Suherman mengatakan, dari tahun ke tahun kualitas visual para peserta terus mengalami peningkatan (improving). Munculnya variasi konten lokal menjadi warna tersendiri dalam kompetisi kali ini.
Dalam proses kurasi, tim juri mengaku selektif dalam mencari karya yang memiliki stopping power atau daya pikat yang kuat. Tim juri menghindari foto-foto yang terlalu umum (common) atau meniru pemenang dari tahun-tahun sebelumnya.
“Foto itu kan sebenarnya perpanjangan dari cara kita bercerita, tapi dalam bentuk visual. Jadi, seorang fotografer harus bisa menyampaikan pesannya dengan kuat melalui sebuah foto,” tegas Martha.
Ia juga mengingatkan bahwa foto yang sudah pernah menang di kompetisi lain, atau yang kemiripannya mencapai 90% dengan karya yang pernah juara, dipastikan tidak akan lolos. Pihak juri ingin mencari yang benar-benar otentik/baru/belum pernah muncul sama sekali.
Tahun ini, kompetisi foto JNE menghadirkan dua kategori berbeda, yaitu Kategori Umum (Konseptual/Seni): Peserta diperbolehkan mengatur model atau setting foto. Serta Kategori Jurnalistik yaitu Foto harus menyajikan fakta apa adanya yang terjadi di lapangan tanpa rekayasa.
Kolaborasi yang terjalin antara JNE dan UNAIR ini sebagai bagian dari upaya kampus dalam mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif dan adaptif terhadap perkembangan industri kreatif. Kegiatan seperti ini sangat relevan untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan ke depan.
Creative Workshop ini secara khusus diperuntukkan bagi mahasiswa Universitas Airlangga dan diharapkan dapat meningkatkan partisipasi serta kualitas karya dalam JNE Content Competition 2026.
“JNE berharap kegiatan ini dapat terus menjadi wadah kolaborasi antara dunia industri dan akademisi dalam melahirkan talenta-talenta kreatif yang mampu berkarya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tutup Eri Palgunadi.
Bisnis Nasional Update Informasi Terkini