
Blitar, (bisnisnasional.com) – PLTA Sutami yang berlokasi di Malang merupakan pembangkit listrik tenaga air tertua di Pulau Jawa, memiliki kapasitas sebesar 3×35 Megawatt (MW) yang punya peran vital sebagai “jantung darurat” untuk menghidupkan kembali sistem kelistrikan jika sewaktu-waktu terjadi blackout.
Senior Manager UP Brantas PLN NP, Arfan ketika ditemui di lokasi menjelaskan bahwa PLTA Sutami menjadi salah satu unit utama di pembangkit kami di Brantas dengan kapasitas 3 x 35 MW Kebetulan juga merupakan pembangkit hidro yang operasionalnya menjadi andalan dari pihaknya sebagai salah satu penguatan dari sisi energi baru terbarukan.
Selain itu PLTA Sutami ini keandalannya memang menjadi salah satu isu krusial karena sebagai unit line charging. Jadi misalnya terjadi Blackout sistem kelistrikan di Jawa Timur maka start bangun bangkitnya sistem itu dimulai dari PLTA Sutami ini.
“Jadi mengenai Line Charging ini PLTA Sutami memang sudah dari dulu, jadi kita hanya memastikan kesiapan dan keandalannya,” ujar Arfan.

Ia menambahkan kalau untuk utilisasi tahun ini artinya dari kapasitas pembangkitan Alhamdulillah karena musim ini curah hujan cukup baik sehingga capaian target produksi sampai akhir tahun diharapkan melebihi target.
Disamping itu pihaknya juga berkomitmen penting untuk menjaga kelestarian alam dan konservasi area sekitar di wilayah Malang, Batu dan sekitarnya karena memang ketersediaan air untuk operasi PLTA ini sangat di didukung sangat ditentukan oleh konservasi kelestarian sumber alam.
Upaya- upaya yang dilakukan diantaranya berkolaborasi dengan stakeholder untuk melakukan penghijauan di sekitar daerah aliran sungai maupun di Hulu di sekitar Malang Raya, dan sekitarnya. Kemudian juga kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup organisasi nonpemerintah atau LSM lainnya.
Terkait adanya rencana pembangunan PLTS terapung, Arfan menjelaskan memang ada arah kesana di Waduk nya Sutami. Soal desainnya mungkin sekitar 10 sampai 20% dari luas genangan dari PLTA Sutami yang di rencanakan kapasitasnya nanti sekitar 100 mwp.
“Nanti diharapkan ini menjadi Simbol atau brand imagenya Jawa Timur sebagai sebagai salah satu sumber penopang dan pengembangan energi baru terbarukan baik melalui PLTA maupun melalui tenaga surya,” imbuh Arfan.
Ditempat yang sama, General Managet PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja mengatakan, mengenai tantangan eksternal transmisi di udara terbuka yakni masalah layang-layang yang sering tersangkut pada instalasi listrik.
Karena itu pihaknya gencar mensosialisasikan pada masyarakat agar ketika main layang-layang tidak di area instalasi terutama di Sutami ini. Karena disini sebagai starternya untuk menghidupi listrik ke seluruh Jawa Timur.
Ika juga mrnjelaskan bahwa jika bicara wilayah Malang atau Jarim memang kondisi saat ini memang tidak sempurna, tetapi justru itu harus dijaga keandalannya.
Di Jawa Timur pihaknya ada proyek baru, karena ini adalah bagian dari RUPTL maka energi hijaunya dioptimalkan. Pihaknya berperan menyiapkan salurannya. Yang dilakukan tentu adanya rekontruksi. Saluran yang tadinya nyambung ke PLTA dan langsung ke Kebon Agung akan dirubah sedikit kontruksinya agar bisa nyambung ke PLTS.
“Kalau kaitan dengan Sutami ini sebagai black startnya, sistem Jawa Timur karena akan mengisi sampai ke Paiton. Karena kalau PLTU butuh air sebagai penggeraknya. Kalau air tidak butuh penggerak awal. Sehingga bisa mengisi dulu sampai ke Grati nanti akan disambungkan ke Paiton baru bisa menghidupi Jawa Timur dan bisa transfer ke tempat lain,” papar Ika. (in)
.
Bisnis Nasional Update Informasi Terkini